Pinjaman Syariah: Pengertian dan Perbedaannya dengan Pinjaman Konvensional

Pinjaman adalah salah satu produk yang diberikan oleh lembaga keuangan untuk masyarakat yang membutuhkan. Kebanyakan pinjaman diberikan oleh bank yang dibagi menjadi pinjaman syariah dan konvensional. Banyak yang masih belum paham, sebenarnya apa itu pinjaman syariah dan apa perbedaannya dengan pinjaman konvensional? Untuk lebih jelasnya, mari sama–sama lihat penjelasannya di bawah ini. 

Pengertian Pinjaman Syariah 

Sebenarnya dari namanya, sebenarnya Anda sudah bisa mendapatkan gambaran akan pinjaman syariah. Secara umum pinjaman syariah adalah jenis pinjaman yang berdasarkan dengan syariat Islam. Dimana sistem yang digunakan juga sudah sesuai dengan aturan Islam, mulai dari kredit hingga tenor yang ditetapkan. 

Dari sini sudah terlihat akan perbedaan antara pinjaman syariah dengan konvensional. Dalam pinjaman syariah, imbal jasa yang diberikan sudah sesuai dengan prinsip Islam dan sesuai dengan perjanjian yang disetujui antara lembaga keuangan dengan nasabah. Biasanya akan menggunakan prinsip bagi hasil atau bisa disebut dengan nisbah. 

Perbedaan Pinjaman Syariah dengan Pinjaman Konvensional 

Dari pengertian yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka sudah bisa melihat sedikit perbedaan antara pinjaman syariah dengan konvensional. Tapi, agar Anda bisa lebih memahami tentang perbedaan keduanya, lebih baik melihat perbedaannya di bawah ini: 

Konsep pinjaman 

Seperti yang sudah disebutkan, konsep pinjaman syariah dengan konvensional sendiri sudah sangatlah berbeda. Dimana konsep yang sangat terlihat jelas adalah dari masalah bunga. Disebutkan di atas, bahwa lembaga keuangan konvensional sendiri menetapkan imbalan dalam bentuk bunga. Sehingga ketika Anda meminjam dana di bank konvensional, maka pembayaran akan bersamaan dengan bunga yang sudah ditetapkan. 

Tapi, untuk pinjaman syariah sendiri, maka imbalan jasa adalah dalam bentuk jual beli margin. Dimana margin yang ada nantinya akan diangsur dalam jangka waktu panjang.

Orang yang mengangsur adalah si pembeli dalam hal ini adalah nasabah. Dari penjelasan singkat ini, maka sudah terlihat jelas bahwa pinjaman syariah dan konvensional menjalankan konsep yang benar–benar berbeda. 

Akad atau perjanjian 

Perbedaan selanjutnya adalah dari perjanjian atau akad yang ditetapkan antara pinjaman syariah dengan konvensional. Perlu Anda tahu bahwa dalam pinjaman konvensional sendiri tidak menggunakan akad apapun. Sehingga aturan yang digunakan pun sesuai dengan ketetapan dari lembaga keuangan itu sendiri. 

Berbeda dengan pinjaman syariah yang menerapkan sistem akad, dimana ada tiga akad yang digunakan secara umum, yaitu Murabahah, Musyarakah dan Mudharabah. Adapun perbedaan yang mendasari akad–akad ini. 

Untuk Murabahah sendiri adalah akad jual beli antara nasabah dengan bank yang akan memberikan pinjaman untuk membeli barang. Apabila barang sudah dijual kepada nasabah, maka pembayaran akan dicicil terlebih dahulu. Dalam hal ini pemberi pinjaman akan menaikan harga terlebih dahulu dan akan bertanya kepada nasabah. Jika disetujui maka akad akan dilanjutkan. 

Sedangkan untuk akad Musyarakah merupakan pemberian pinjaman yang bertujuan untuk membuka usaha bersama. Dimana nantinya akan keuntungan akan dibagi bersama, hingga dana sudah selesai dibayarkan dan nasabah akan memperoleh seluruh usahanya.

Sedangkan untuk Mudharabah adalah akad yang juga diberikan untuk pelaku usaha dari bank atau lembaga keuangan. Nantinya modal ini akan dikembalikan dalam bentuk bagi hasil dari keuntungan. 

Jenis risiko

Perbedaan selanjutnya adalah dari jenis risiko yang ditanggung ketika Anda meminjam secara syariah dan konvensional. Perlu Anda ketahui bahwa pinjaman konvensional tidak akan menanggung risiko akan pinjaman yang diberikan. Apabila tidak dapat mengembalikan, maka Anda yang akan menanggung semuanya.

Tentu saja ini berbeda dengan pinjaman syariah yang mana si pemberi pinjaman juga akan ikut menanggung risiko yang Anda alami.

Biaya keterlambatan 

Perbedaan yang sangat terlihat adalah dari biaya keterlambatan yang ditetapkan oleh pinjaman syariah dan konvensional. Anda pasti sudah tahu bahwa pada pinjaman konvensional akan diberlakukan denda bila Anda terlambat membayar angsuran.

Tentu saja, denda ini wajib sekali untuk dibayarkan. Denda ini yang dikenakan pun nantinya akan masuk sebagai keuntungan di bank atau lembaga konvensional. 

Tidak seperti pada pinjaman syariah yang tidak memberlakukan denda apabila Anda terlambat dalam pembayaran angsuran. Anda hanya akan dikenakan biaya yang sudah ditentukan pada awal akad, dimana nantinya pun uang yang dibayarkan tidak akan masuk ke dalam lembaga keuangan atau bank. Uang yang dibayarkan akan diserahkan kepada lembaga sosial yang membutuhkan. 

Demikianlah pengertian pinjaman syariah dan perbedaannya dengan pinjaman konvensional. Dilihat dari penjelasan yang diberikan, maka sudah terlihat bahwa pinjaman syariah ini memiliki manfaat dan keuntungan yang baik untuk masyarakat. Terutama untuk umat muslim di Indonesia yang memang ingin menghindari praktek riba. 

Dengan hadirnya pinjaman syariah, maka masyarakat tidak perlu lagi khawatir jika ingin mengajukan pinjaman apabila memang dibutuhkan. Teruntuk bagi pelaku usaha yang sudah pasti akan membutuhkan modal tambahan agar usaha bisa terus berkembang pesat.